Arsip untuk September, 2007

LESBIAN-GAY-BISEX-TRANSEX MOVIE FESTIVAL

September 30, 2007

Kurang lebih sebulan yang lalu saya mengunjungi festival film LGBT di Blitz Megaplex. LGBT ini singkatan dari Lesbian Gay Biseksual dan Transeksual. Sejujurnya saya bukan orang modern yang sangat peduli dengan event-event semacam ini,namun saya perlu tau karena inilah topik favorit teman-teman saya saat ini yang bergelut di bidang pemberdayaan perempuan.

Menjadi menarik kemudian adalah perasaan yang muncul saat diskusi interaktif. Satu hal yang tidak pernah saya antisipasi adalah banyaknya kaum LGBT yang datang dalam event ini. Ya iyalah namanya juga LGBT, begitu kata teman saya. Tanpa saya sadari saya menjadi sangat tidak nyaman seketika itu. Dalam sesi tanya jawab, seorang nara sumber yang menurut perkiraan teman saya 99% lesbian menatap kami dengan bertanya, “Mungkin yang lesbian bisa memberikan sharing pada kita di sini?”

Ada sekitar 5-7 orang peserta perempuan di luar panitia yang bertahan hingga diskusi berakhir dan semua mata melihat kami (para peserta perempuan) berharap kami menceritakan pengalaman pengakuan lesbian kami. Begitu rikuhnya, sampai saya tidak bisa berkata-kata saat itu.

Yang saya lihat, motivasi dari festival-festival macam ini adalah kampanye. Karena motivasinya kampanye saya jadi bertanya-tanya kepada siapa kampanye LGBT ini ditujukan dan apa tujuannya? Kemungkinannnya bisa bermacam-macam. Kemungkinan pertama kampanye ini ditujukan bagi para LGBT untuk berani mengakui bahwa dirinya salah satu LGBT. Kalau ini pihak yang menjadi sasaran rasanya wajar saja kami bertiga sebagai peserta diskusi dikira lesbian. Kemungkinan kedua adalah kampanye ini ditujukan pada masyarakat umum untuk mulai aware ada LGBT lho di sekitar kita.

Kemungkinan pertama membawa kita pada pertanyaan berikutnya yaitu siapa sih sebenernya LGBT itu? Dalam diskusi, referensi yang digunakan adalah penelitian Kinsey tentang sexualitas. Menurut saya, secara serampangan data Kinsey dipotong dan disajikan bahwa tidak ada orang yang benar-benar murni straight, hampir semua orang cenderung menjadi LGBT. Buat saya ini luar biasa menyesatkan. Riset Kinsey dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1938 dan terbatas pada kulit putih, middle class, berpendidikan tinggi dan berumur di bawah 35 tahun. Kisah hidup Kinsey yang diangkat dalam film oleh Fox Pictures bahkan lebih bercerita tentang risetnya yang kontroverisal tentang posisi-posisi dalam melakukan melakukan hubungan sexual, suatu hal yang bahkan sudah didokumentasikan dengan baik oleh orang India dalam Kamasutra sejak jaman dahulu kala.  

Kemungkinan kedua membuat kita penasaran seberapa banyak sih ada LGBT di sekitar kita? Mau tidak mau kita akan bertanya seberapa banyak pengaruh gen menciptakan seorang LGBT? Berapa banyak LGBT di Indonesia karena faktor genetis dan seberapa banyak karena pergaulan? Saya sama sekali awam dengan hal ini namun teringat tayangan Oprah tentang fenomena San Fransisco sebagai Kota Gay di Amerika Serikat.

Salah seorang bintang tamu Oprah saat itu adalah seorang pria kulit putih yang masih muda dengan penampilan ideal yang berbagi cerita bagaimana San Fransisco mengubah dirinya dari pria straight menjadi pria gay. Dia menuturkan di tiap sudut kota, kafe, apartmen dia selalu digoda para gay dan pada titik tertentu menyadari menjadi gay itu wajar dan akhirnya memutuskan menjadi gay. Pertanyaan Oprah pada tamunya adalah, “Jika San Fransisco begitu luar biasa pengaruhnya kenapa kamu ngga pindah saja?” Jika memang menjadi LGBT karena pengaruh lingkungan bukankah kita punya kuasa untuk mengganti lingkungan kita?

Yang menjadi pikiran saya berikutnya adalah sampai sejauh mana kampenye LGBT ini akan berlanjut. Seperti partai politik yang membutuhkan electoral threshold, komunitas akan berjuang untuk kuantitas karena kuantitas akan menentuan pengakuan. Jika kuantitas yang diperjuangkan tidakkah genetis tidak lagi dipermasalahkan? Yang penting sebanyak-banyaknya ada orang yang mengaku menjadi homo tidak masalah kalau dia menjadi homo karena sakit hati dengan lawan jenis atau karena pengaruh lingkungan atau karena ingin coba-coba atau karena sepertinya ini yang sedang tren saat ini?

 

KENAPA NESTA NGGA PERNAH BIKIN GOL?

September 29, 2007

Diantara banyaknya serial Hollywood tentang detektif yang membanjiri tv kabel, ada serial “NUMB3RS” yang sempat saya tonton. Dalam satu episode dikisahkan seorang buronan pembawa aliran sesat, the Prophet meninggalkan jejak berupa pola/symbol tertentu yang digambar di atas sprei. Dengan usaha keras termasuk dengan cara menemukan pola angka (numbers) tertentu diperoleh informasi bahwa pola yang ditinggalkan oleh the Phropet adalah pola persilangan keturunan yang banyak digunakan di peternakan sapi. Namun dalam kasus ini pola tersebut merupakan persilangan keturunan the Phopet yang biasanya akan mengawini anak-anak perempuan dari para pengikut setianya.

Salah seorang detektif perempuan dalam tokoh NUMB3RS ternyata pernah dibesarkan dalam keluarga pengikut sekte sejenis yang menempatkan perempuan hanya sebagai makhluk yang menghasilkan keturunan. Suatu praktik dan keyakinan yang sangat melukai hati si detektif perempuan tersebut.

Tentu saja pendapat si detektif perempuan ini benar sekali. Sejalan dengan kemajuan jaman sudah sepantasnya perempuan memiliki peran lebih dalam social dan politik dari hanya sekedar penerus keturunan. Namun atas nama kemandirian dan kemajuan banyak perempuan yang memilih untuk menolak menjadi penerus keturunan. Kalau mau kita cermati fenomena ini muncul di hampir setiap serial tv Hollywood, sebuah pilihan untuk tidak memiliki keturunan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam situs-situs jaringan macam myspace.com, pilihan ingin memiliki dan tidak ingin memiliki anak bahkan diakomodasi dalam pilihan tersendiri. Baca entri selengkapnya »