Arsip untuk Oktober, 2007

Pesta Halloween di Jakarta: Perlukah?

Oktober 30, 2007

 

Hari ini dalam perjalanan ke kantor saya sempat mendengarkan Spadamunegri di Mustang FM. Tema pagi ini adalah ‘Perlukah pesta halloween di Jakarta?” Saya terkesan dengan sms tanggapan yang dikirimkan oleh ABG-ABG Jakarta.

Secara umum, pengirim SMS merespon tidak perlu mengikuti budaya Halloween ala Amerika Serikat (Amerika) karena itu bukan budaya Indonesia. Ada juga satu dua sms yang berbunyi, mungkin ngga ada salahnya bikin pesta Halloween mengingat kultur masyarakat kita mengenal banyak setan bahkan mungkin lebih banyak jenis setan di Indonesia daripada di Amerika, hahaha… Baca entri selengkapnya »

Review film “Get Married”

Oktober 24, 2007

Get Married dibuka dengan suara narator yang menceritakan kisah masa kecil dan cita-cita 4 tokoh utama yaitu Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta Club Eighties), Eman (Aming) dan Beni (Agus Ringgo). Tadinya saya khawatir film ini akan terjebak mengikuti film “Jomblo” yang sepanjang film selalu diselingi narator. Namun untungnya suara narator hanya di pembukaan film.

Film ini bercerita tentang Mae, sarjana sekretaris yang masih menganggur dan tetap bercita-cita menjadi polisi wanita. Tiap hari dia menghabiskan waktu dengan 3 temannya yang juga masih menganggur dengan segala permasalahan sarjana pengangguran di Indonesia. Menurut saya seharusnya ada lebih banyak satire yang bisa ditonjolkan di sini, misalnya sistem pendidikan kita, perekrutan pegawai di perusahaan dan banyak lagi satire pencari kerja tanpa harus kehilangan sense of humor sebagai film komedi. Baca entri selengkapnya »

Bangsa Pemudik Bermental Baja

Oktober 20, 2007

Sebagai member sejati hajatan tahunan Mudik Lebaran, saya merasakan betapa kita, orang Indonesia sebenarnya bermental baja. Mudik dengan segala tetek bengeknya menyisakan banyak cerita perjuangan.

Ya mudik adalah perjuangan. Bagaimana tidak berjuang? Dari moda yang digunakan, urusan mudik orang Indonesia menurut saya patut diacungi jempol. Segala moda tidak luput digunakan oleh pemudik. Dari moda yang tidak nyaman seperti sepeda motor sampai moda yang tidak pernah terbayang sebelumnya untuk digunakan mudik seperti bajaj. Dari moda yang susah dapat tempat duduknya seperti kereta api ekonomi sampai mobil back terbuka menjadi pilihan untuk mudik. Baca entri selengkapnya »

AGAMA KTP

Oktober 6, 2007

Sebagai negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, negara kita mewajibkan tiap orang memilih satu agama. Beberapa warga negara yang menganut agama yang tidak terdaftar bahkan diharuskan memilih salah satu agama yang ada dan dicantumkan dalam KTP. Dari awal sekali di sekolah kita terbiasa mengidentifikasikan seseorang dengan agamanya. Ketika berkenalan, sangat terbiasa bagi kita untuk bertanya, “Apa agamamu? Kamu ke mesjid? Ke gereja?” Kita bahkan tidak siap untuk mendengar seseorang mengatakan tidak beragama.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan bahwa agama tidak berbanding lurus dengan karakter kita. Bahkan kita temui atas nama agama, kita memburu orang-orang Ahmadiah. Atas nama agama, FPI merusak warung-warung makan yang buka pada Bulan Ramadhan. Seorang guru agama memperkosa muridnya. Mungkin kita bisa mengatakan, “Itu kan oknum, tidak bisa disimpulkan bahwa agama tidak mencerminkan tingkah laku.” Kalau begitu bagaimana dengan fakta bahwa negara kita adalah negara terkorup di dunia? Bisa dipastikan bahwa semua koruptor di Indonesia adalah orang beragama. Baca entri selengkapnya »

Ramadhan sebagai Bulan Trening

Oktober 3, 2007

Ramadan telah tiba. Antusiasme dan perhatian dengan sendirinya beralih untuk menyambut dan menikmati bulan yang penuh berkah ini. Jadwal aktivitas hingga tayangan tv menyambut bulan ini dengan gegap gempita. Jam-jam masuk dan pulang kantor mulai dimajukan. Stasiun televisi berlomba-lomba menawarkan tayangan religius untuk memeriahkan bulan Ramadan. Puasa yang dimaksudkan untuk dapat merasakan penderitaan kaum duafa yang tidak selalu bisa merasa kenyang justru dijadikan momentum untuk menikmati segala jenis makanan saat berbuka dan bersaur. Begitu gempitanya kegiatan menyambut Ramadan ini sehingga banyak pihak yang melihat kegiatan sekitar Ramadan semakin terperangkap dalam selebrasi ibadah.

Keimanan manusia selalu naik turun. Naik turunnya iman adalah wajar mengingat manusia tercipta dengan sifat korup yang sangat nyata. Namun demikian manusia mempunyai kemampuan untuk mencapi keimanan tertinggi. Untuk mengurangi ketidakstabilan tingkat iman, diperlukan pelatihan yang memungkinkan seseorang meningkatkan kualitas imannya. Bulan Ramadan tidak lain merupakan masa trening bagi umat muslim untuk mengembalikan dan menambah tingkat imannya. Dengan indahnya Islam menetapkan satu bulan tertentu dalam setahun di mana seorang muslim diwajibkan untuk melatih dan menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya sehingga siap menghadapi tahun berikutnya. Baca entri selengkapnya »

Melodrama Korea vs Sinetron Indonesia

Oktober 2, 2007

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya akan mengomentari film-film seri Korea. Selama ini saya selektif dalam menonton film. Buat saya sebuah film harus menghargai kami para penonton bahkan seandainya kami menonton film tersebut lewat DVD bajakan sekalipun, hehehe.

Atas permintaan saya untuk memilihkan film korea terlucu, seorang penjaga stan DVD di ITC Kuningan menyarankan melodrama Korea yang berjudul Witch Yoo Hee. Karena bagus, saya mulai nonton beberapa judul film korea yang lain atas jasa baik teman kolektor film korea. Menurut saya, secara umum banyak yang harus dicontoh dari melodrama Korea oleh sineas persinetronan Indonesia.

Dari banyaknya episode, rata-rata film Korea adalah 2-3 session yang terdiri dari belasan hingga 20-an episode. Bandingkan dengan sinetron kita yang bisa mencapai ratusan episode. Rekor terpanjang sinetron kita menurut Kompas Minggu adalah sinetron Tersanjung yang diputar selama kurang lebih 3 tahun. Dalam waktu dekat rekor ini bahkan akan dipatahkan oleh sintron kejar tayang harian yang baru-baru ini mendominasi televisi nasional! Entah siapa yang bosan duluan, para penonton atau para pemasang iklannya. Baca entri selengkapnya »

BUDAYA ANTRI VS LADY’S FIRST

Oktober 1, 2007

Atas permintaan sendiri saya pindah ke credit remedial (baca: kredit macet). Namanya juga kredit macet, debitur-debiturnya relatif lebih sulit ditemui dibanding kredit yang lancar. Segala cara ditempuh untuk berkomunikasi dengan mereka, termasuk komunikasi lewat fax. Karena banyaknya kredit yang macet, kami harus antri untuk menggunakan dua mesin fax yang ada. Satu kali dalam antrian, seorang pegawai senior tanpa permisi menyerobot giliran saya untuk fax meskipun dia tau saya sudah lama menunggu. Tanpa merasa bersalah dia mendahului dan dengan ringan berkata, “saya duluan ya, saya banyak kerjaan.”

Tentu saja saya dongkol, memangnya saya ngga punya kerjaan apa? Tapi nilai posistifnya, saya jadi kepikiran untuk berbagi opini di sini. Kalau di kantor saja, sebuah bank besar di mana tidak ada yang tidak berpendidikan, tidak bisa antri, apa yang kita harapkan di luaran sana? Agaknya budaya antri memang tidak berbanding lurus dengan pendidikan.

Ada kejadian yang diquote dengan bagus oleh Arvan Pradiansyah tentang ketidakmampuan kita untuk antri. Di Singapura, tiap ada orang yang menyerobot antrian taksi seketika orang-orang yang antri itu berteriak, “Hey Indonesian, wait…Indonesian, wait…” Ini benar-benar memalukan. Stereotip orang Indonesia di negara tetangga benar-benar buruk. Saya pikir orang Indonesia yang naik taksi di Singapura sudah barang tentu bukan TKI atau TKW. Minimal adalah orang yang bisa bepergian dan belanja di Singapura. Jadi satu bukti lagi budaya antri juga tidak berbanding lurus dengan kemapanan. Baca entri selengkapnya »