Atas permintaan sendiri saya pindah ke credit remedial (baca: kredit macet). Namanya juga kredit macet, debitur-debiturnya relatif lebih sulit ditemui dibanding kredit yang lancar. Segala cara ditempuh untuk berkomunikasi dengan mereka, termasuk komunikasi lewat fax. Karena banyaknya kredit yang macet, kami harus antri untuk menggunakan dua mesin fax yang ada. Satu kali dalam antrian, seorang pegawai senior tanpa permisi menyerobot giliran saya untuk fax meskipun dia tau saya sudah lama menunggu. Tanpa merasa bersalah dia mendahului dan dengan ringan berkata, “saya duluan ya, saya banyak kerjaan.”
Tentu saja saya dongkol, memangnya saya ngga punya kerjaan apa? Tapi nilai posistifnya, saya jadi kepikiran untuk berbagi opini di sini. Kalau di kantor saja, sebuah bank besar di mana tidak ada yang tidak berpendidikan, tidak bisa antri, apa yang kita harapkan di luaran sana? Agaknya budaya antri memang tidak berbanding lurus dengan pendidikan.
Ada kejadian yang diquote dengan bagus oleh Arvan Pradiansyah tentang ketidakmampuan kita untuk antri. Di Singapura, tiap ada orang yang menyerobot antrian taksi seketika orang-orang yang antri itu berteriak, “Hey Indonesian, wait…Indonesian, wait…” Ini benar-benar memalukan. Stereotip orang Indonesia di negara tetangga benar-benar buruk. Saya pikir orang Indonesia yang naik taksi di Singapura sudah barang tentu bukan TKI atau TKW. Minimal adalah orang yang bisa bepergian dan belanja di Singapura. Jadi satu bukti lagi budaya antri juga tidak berbanding lurus dengan kemapanan. Baca entri selengkapnya »
