Melodrama Korea vs Sinetron Indonesia

Oktober 2, 2007

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya akan mengomentari film-film seri Korea. Selama ini saya selektif dalam menonton film. Buat saya sebuah film harus menghargai kami para penonton bahkan seandainya kami menonton film tersebut lewat DVD bajakan sekalipun, hehehe.

Atas permintaan saya untuk memilihkan film korea terlucu, seorang penjaga stan DVD di ITC Kuningan menyarankan melodrama Korea yang berjudul Witch Yoo Hee. Karena bagus, saya mulai nonton beberapa judul film korea yang lain atas jasa baik teman kolektor film korea. Menurut saya, secara umum banyak yang harus dicontoh dari melodrama Korea oleh sineas persinetronan Indonesia.

Dari banyaknya episode, rata-rata film Korea adalah 2-3 session yang terdiri dari belasan hingga 20-an episode. Bandingkan dengan sinetron kita yang bisa mencapai ratusan episode. Rekor terpanjang sinetron kita menurut Kompas Minggu adalah sinetron Tersanjung yang diputar selama kurang lebih 3 tahun. Dalam waktu dekat rekor ini bahkan akan dipatahkan oleh sintron kejar tayang harian yang baru-baru ini mendominasi televisi nasional! Entah siapa yang bosan duluan, para penonton atau para pemasang iklannya.

Berdasarkan tema, melodrama korea memiliki tema yang kuat dan direncanakan dengan matang. Beberapa melodrama ini bahkan sudah mulai mengikuti jejak Hollywood dengan menceritakan secara detil profesi-profesi tertentu. Profesi semacam dokter dan koki dibahas dengan detil termasuk istilah-istilah medis dan kuliner yang tidak umum. Jika ide cerita diangkat dari komik Jepang, di awal episode akan dijelaskan sumber ide tersebut.

Ini tentu berbeda dengan sinetron kita. Sinetron kita lebih berkiblat ke telenovela Amerika selatan. Si tokoh tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Kalau pun memiliki pekerjaan yang jelas, tidak ada interaksi apa pun antara pekerjaan si tokoh dengan peran yang dia mainkan.

Begitu pun dengan asal dari ide cerita. Persinetronan kita bisa dengan mudah menjiplak film / komik Jepang, film Taiwan, film Korea atau apa pun asal kelihatan bagus tanpa mau mengakuinya. Sinetron Candy misalnya, meskipun jelas-jelas menjiplak komik Candy-candy namun produsernya mengaku tidak meniru sama sekali.

Seorang teman yang bekerja di Rapi Film bahkan mengaku bahwa Bosnya selalu menyuruh membaca komik Jepang serial cantik untuk selanjutnya diceritakan kembali kepada si Boss tersebut. Jika si Boss terkesan dengan ide cerita, maka dia akan memanggil penulis scenario untuk membuat plot cerita seperti pada komik tersebut dengan nama tokoh yang berbeda dengan sedikit variasi pada endingnya.

Film-film korea juga sudah mulai mengangkat isu-isu sosial yang menjadi keprihatinan masyarakat setempat. Penyakit tentang aids misalnya dikampanyekan dengan menarik tentang bagaimana penularannya dan apa yang harus kita lakukan jika hidup dengan orang yang tertular aids. Ini bahkan jauh lebih efektif dibanding iklan layanan masyarakat kita bahkan jika ditayangkan setiap hari prime time.

Sebaliknya sinetron kita HANYA dilatarbelakangai motivasi untuk mendapat peringkat terbaik sesuai daftar yang dikeluarkan AC Nilsen, satu pemeringkatan yang tidak umum diketahui bagaimana cara menghitungnya. Tidak heran jika muncul tokoh superjahat yang tidak punya otak. Mertua perempuan misalnya bisa digambarkan sejahat setan yang tidak layak hidup.

Dari segi pengambilan gambar melodrama Korea juga terlihat belajar mengikuti film Hollywood. Pengambilan gambar lewat pantulan banyak dilakukan dan satu adegan diambil dari beberapa sudut.

Melodrama Korea juga dikenal pemurah dalam memvisualkan tokoh-tokohnya. Penokohan karakter ini sangat kuat dan konsisten dari sejak episode pertama hingga tamat. Seorang tokoh fashion freak misalnya akan habis-habisan didandani dengan teramat sangat matching dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebaliknya orang kampung pun diberikan kostum sesuai kostum orang kampung dengan make up yang sesuai.

Saya ingat dalam satu episode sinetron Liontin yang dibintangi oleh Mirdad bersaudara, seorang tokoh cucu konglomerat yang mewarisi perusahaan berangkat ke kantor dengan blazer yang sangat murahan. Blazer tersebut tampak kedodoran dan tidak enak dilihat. Tentu saja ini memperlihatkan tingkat kemalasan yang luar biasa dari Bagian Kostum. Saya yakin, jika penyiar-penyiar berita Metro TV bisa mengenakan blazer terbaik saat on air, tidak sulit bagi sinetron-sinetron kita untuk mencari sponsorship dengan perusahaan garmen merk local ternama.

Ini tentu berbeda dengan melodrama Korea. Tidak tanggung-tanggung sponsor-sponsor melodrama Korea adalah mobil-mobil mewah terbaru. Dalam satu serial jika BMW menjadi sponsornya maka semua jenis BMW yang dipasarkan di Korea akan dimunculkan disesuaikan dengan karakter si tokoh. Seorang dokter muda yang oportunis akan mengendarai BMW sport biru menyala open cap 2 pintu, sedangkan seorang tokoh utama perempuan yang kikuk dan kaku menggunakan BMW warna hitam serie 7. Dari yang saya amati BMW bahkan bersaing ketat dengan Audi dan Mercedes Benz untuk untuk dapat mensponsori melodrama Korea. Persaingan sponsor ini juga berlaku untuk produk gadget. Sponsor handphone semacam Samsung, LG, Sony Erikson bersaing sangat ketat dalam mensponsori melodrama-melodrama Korea ini.

Hmm sepertinya, ngga ada bagus-bagusnya sinetron kita dibanding melodrama Korea. Entah saya yang terlalu nyinyir mengomentari sinetron Indonesia atau memang sinetron kita tidak layak untuk dibandingkan?

8 Tanggapan ke “Melodrama Korea vs Sinetron Indonesia”

  1. ndoloBH Berkata

    Setuju..!

    Sinetron2 lokal memang nggak pantas disandingkan, sama sekali nggak mutu, paling hanya segelintir yang pantas menjadi catatan, macam si Doel dulu.

    Kayak sinetron2 ABG yang nyritain anak sekolah, esempe / esema. Mosok anak sekolah yang ada di otaknya cuma pacaran, jalan ke mall, pacaran lagi, nongkrong lagi dsbgny, dstrsny..capek deeh..
    Nggak ada yang coba nyritain kehidupan anak sekolah dengan dinamika aktipitas akademisnya, penelitiyan lah, praktikum IPA lah, kerja klompok lah, ekskul lah, dll. Makanya pantes aja kbanyakan anak2 ABG, esempe / esema sekarang yang ada di otaknya cuma pacaraaaaaaan.. cinta-cintaaaaaan, dstrsny.. cuwapeeek deeh..!

  2. Malia Berkata

    @ndoloBH
    Ada kampanye di Metro TV untuk merubah sistem rating yang dikeluarkan AC Nielsen. Menurutku itu satau langkah maju untuk meningkatkan kualitas sinetron kita.
    Juga ada iklan layanan (lupa nama instansi dan nomor teleponnya) yang meminta kita melaporkan kalau ada tayanangan yang tidak pantas ditayangkan. Mungkin perlu partisipasi aktif kita semua, para pembenci sinetron.

  3. yunartika Berkata

    saya juga beranggapan demikian film korea n taiwan sangat amat berkualitas baik dari segi cerita,,penokohan, n lain2.Amat jauh jika dibandingkan dengan film indonesia yang hanya bisa buet awalnya doang yang seru eh tapi keterrusan pada bag tengah sampai ending nggak nyambung booo!!!Ada hantu nyala, ajaib2 la,muncul orang baru la,malez tau nggak sih!!…..pokoknya
    bosan abis deh…

  4. dewi Berkata

    saya juga sudah lama membanding-bandingkan antara sinetron korea dengan sinetron indonesia,,eh tak disangka hasilnya sama seperti kakak,,nah dari sana saya mempunyai keinginan untuk membuat sinetron ataupun film indonesia memiliki kualitas yang sama baiknya dengan korea,,saya ingin sekali belajar perfilman korea,,tapi saya tidak tahu bagaimana caranya,,saya sekarang baru saja naik ke kelas 3 sma,,kalau kakak punya info tolong beritahu saya ya…

  5. swasti Berkata

    wih… bener n bener banget!!!

    aku juga ga suka banget ma sinetron negeri kita, y gimana mau cinta produk dalm negeri klo barang yang di tiap rumah punya ( TV maknyudnya ) isinya cuma kreatif jiplakan euy..

    pernah dulu aku saking cintanya sama salah satu sinetron di SCTV “CINTA ITU GA BUTA” aku bela2in tiap malm minggu ga kluyuran mpe jam 10 deh…
    aku ton2 terus eh tau2 berbulan2 kmudian aku buka di google ternyata jiplakan…………….

    mpe itu aku males, yang namanya nonton sinetron MADE IN INDONESIA tapi dalam tanda kutip guede hahahaha
    nah yang suka banget ma drama korea aku jamin ga bakal nyesel nonton la wong critane tu gampang di cerna, ga bolak-balik, episode dikit n ending yang oke banget….

    tapi mang c ada 1 atau 2 yg ga banget nratingnya di SCTV dikit banget cus brenti deh…..
    yang aku suka juga tu, kalo bikinan korea mesti ada soundtracknya pa lg mesti bagus n bikin kangen mrinding kaya ave maria di STAIRWAY….
    thanks ya da di baca
    dari swastiiiiii di solo

  6. paramita Berkata

    sebenarnya sich film korea dan juga film indonesia lebih bagus indonesia.Tapi saya rasa indonesia hanya malas meembuat lebih baik.

    Tapi memang film korea tuch lucu,aku ajah pingin kesana..
    Ya udah makasih..
    Dari Paramita Dian di sleman yogyakarta

  7. dy Berkata

    sinetron indonesia t nothing kalo dibandingin film korea ato jepang

  8. kim Berkata

    haii, gue mau bilang neh, emang bener sinetron indonesia itu ga ada bagus-bagusnya, kehabiasn cerita kale.. trus temanya itu-itu aja , pasti soal rebutan harta, ah membosankan, trus kalo ketahuan ngejiplak ceritanya jadi amburadul ga karuan, cape dech, oh ya mau tanya dunks, ada yang tau ga sinetron kawin massal itu jiplakan mana ya, trus sama sinetron cucu menantu juga jiplak serial apa ya, soalnya aku curiga, ceritanya itu ga biasa diindonesia, eh pada tau ga kalo sinetron sekar jiplakan serial korea yang judulnya golden bride, cayooo… serial korea, taiwan, dan jepang.


Tinggalkan Balasan