Berlomba-lombanya tiap bank memasuki bisnis kartu kredit menjadikan kartu kredit saat ini begitu mudah didapat. Di mall, ITC, tempat-tempat makan sampai di pinggir jalan sering kali kita dicegat salesman/girl yang menawarkan berbagai macam kartu kredit dengan segala hadiah dan fasilitasnya.
Kondisi ini diperparah dengan kemampuan salesman/girl yang hanya mengejar target aplikasi hingga menyebabkan banyak hutang kartu kredit menjadi macet karena kekurangkredibelan si pemegang kartu kredit.
Bagi calon pemegang kartu kredit, yang harus dilakukan adalah mengukur diri sendiri. Mampukah Anda membayar tagihan belanja kartu kredit di bulan depan? Jika mampu, maka pilihlah kartu kredit yang sesuai dengan kondisi Anda.
Pertama pilihlah bank yang bagus. Kriteria bagus bisa berdasarkan besarnya aset atau berdasarkan lamanya bank ini telah memberikan layanan kartu kredit. Saat ini berdasarkan banyaknya pemegang kartu kredit, Citibank dan BNI 46 mendominasi pasar kartu kredit Indonesia. Kartu kredit yang baik umumnya diterima di banyak tempat belanja.
Kedua jenis kartu kreditnya. Ada banyak pilihan fasilitas kartu kredit yaitu Silver, Gold dan Premium (black). Sebenarnya jenis ini akan dipilihkan oleh bank sesuai pendapatan yang Anda cantumkan. Namun jika pendapatan Anda hanya memungkinkan kartu kredit silver namun Anda sering bepergian dengan pesawat, dalam setahun Anda bisa minta diupgrade menjadi kartu kredit gold. Dengan kartu kredit gold Anda bisa menikmati executive lounge gratis di bandara-bandara di Indonesia.
Yang ketiga, memilih afiliasi kartut kredit. Afiliasi kartu kredit di dunia didominasi oleh MasterCard dan Visa. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah karena keduanya menawarkan kemudahan dan hampir bisa diterima di mana saja. Kartu kredit Visa umumnya menjadi default aplikasi kartu kredit di Indonesia. Biasanya di tahun berikutnya Anda akan ditawari kartu kedua yang berafiliasi dengan MasterCard.
Jika secara financial Anda tidak mampu, jangan pernah berpikir untuk memiliki kartu kredit, belanja sebanyak-banyaknya kemudian ngemplang (baca: tidak bayar). Ada dua risiko utama yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda berniat ngemplang.
Pertama, penagihan hutang kartu kredit yang macet oleh Bank sering kali diserahkan kepada debt collector swasta. Umumnya debt collector ini tidak berafiliasi dengan Bank namun bisa melakukan tindakan yang dapat memalukan Anda di depan umum. Beruntung, saat ini bank-bank di Indonesia belum melakukan penjualan hutang kartu kredit seperti lazim di negara maju. Begitu bank-bank melakukan hal ini, bisa jadi Anda berhutang ke bank namun karena ngemplang yang datang malah sekumpulan tukang pukul atau tukang sita asset yang sudah membeli hutang macet Anda.
Alasan kedua, sejak tahun 2005 Bank Indonesia telah mengembangkan sistem informasi debitur (SID) di mana semua penghutang di bank di seluruh wilayah Indonesia termasuk hutang kartu kredit dicatatkan dalam sistem informasi terpusat. Sekali Anda ngemplang, data Anda akan terekam di Bank Indonesia dan dijamin di masa depan Anda akan sulit berhubungan dengan bank mana pun karena SID ini dapat diakses oleh seluruh bank di Indonesia.
Yah sepertinya memilih kartu kredit sesuai kebutuhan adalah pilihan terbaik.
Tags: CRedit Card

Desember 9, 2007 pada 11:40 am
Ya ….. lagi kartu kredit memang bikin kita gerah, kesal, dan menjengkelkan. bayangkan mereka sebenarnya adalah lintah darat yang dilegalkan oleh negara. Saat memuja konsumen mereka lakukan dengan berbagai cara agar konsumen “terjebak” membuat kartu kredit. lantas pada saat macet dalam pembayaran mereka tak segan-segan melakukan berbagai cara termasuk gaya-gaya PENAGIH YAHUDI, dengan mengatasnamakan kebenaran harus menagih tanpa melihat kondisi ekonomi-sosial yang ditagih. Sudahlan kita buang jauh-jauh cara pinjam dana lewat kartu kredit, lebih baik kita pinjam dana dengan basis syariah, dimana resiko kerugian jika kita belanjakan pinjaman dana untuk modal kerja dapat ditanggung bersama-saam antara peminjam dan yang dipinjam, dan itu artinya fair dan adil, setuju gak pembaca ………….
Desember 31, 2007 pada 9:51 pm
Good article !
Thanks.
Januari 6, 2008 pada 12:04 am
aduuuh…serem euy..debt collector biadab!!
Maret 28, 2008 pada 4:31 pm
menurut saya kartu kredit itu seperti air, pada saat dahaga bisa menjadi sumber lega bahkan sumber hidup yang nyata, tapi kalau kita sembrono dalam mengelolanya, banjir dimana-mana; saya pikir menyesuaikan pengeluaran dengan pemasukan dan memahami dengan sebaik-baiknya nature dari kartu kredit itu akan sangat membantu.
Juni 27, 2008 pada 12:37 am
sialan lo bilang DC Biadap, ya kalau ngk mau ketemu DC bayar tepat waktu, jangan bisanya ngutang bayar susah. lo bilang DC sialan yang ngutang macet nggak tau diri..