Beberapa pembaca Amerika di amazon.com mengomentari bahwa “The Secret” tidak membahas rahasia (secret) sama sekali. Sepengetahuan saya, Ibnu Sina dalam Treatise on Love menyebut apa yang dibahas “The Secret” sebagai “simpati”. Ahli fisika kita, Yohanes Surya, mengarang buku sejenis dan menyebutnya sebagai “mestakung, semesta mendukung”. Namun mengingat buku-buku ini tidak membahas tema ini dengan lebih sederhana, menurut saya The Secret pantas menyandang judulnya.
The Secret bercerita tentang The Law of Attraction, Hukum Tarik Menarik. Segala yang datang ke dalam hidup kita ditarik oleh kita sendiri. Dan segala sesuatu itu tertarik pada kita karena pencitraan yang kita lakukan dalam pikiran kita. Di dalam diri kita terdapat sebuah magnet yang lebih kuat dari segala sesuatu yang ada di dunia, yang terpancarkan melalui pikiran-pikiran kita. Karena bersifat magnetis pikiran memiliki frekuensi dan selama kita berpikir, pikiran-pikiran ini dikirim ke alam semesta.
Seperti hukum alam yang lain, hukum tarik menarik bersifat konsisten. Ketika kita memikirkan hal-hal yang kita inginkan dan kita fokuskan semua niat kita kepadanya, hukum tarik menarik akan memberikan persis seperti apa yang kita inginkan. Sayangnya, ketika kita fokus pada hal-hal yang tidak kita inginkan, hukum tarik menarik tidak mendengar bahwa kita tidak menginginkannya. Hukum ini tidak membedakan apa yang kita inginkan dan apa yang tidak kita inginkan. Ketika kita fokus pada sesuatu meskipun kita tidak menginnginkannya, kita sebenarnya sedang memanggil sesuatu itu untuk menjadi kenyataan.
Bagaimana caranya menggunakan hukum ini untuk keuntungan kita? Kita perlu menyadari perasaan kita karena inilah cara tercepat mengetahui apa yang sedang kita pikirkan. Perasaan memberi tahu pada frekuensi mana kita berada. Perasaan buruk berupa sedih, depresi, stress, marah, kesal, rasa bersalah akan menyiarkan frekuensi yang buruk dan pada akhirnya menarik hal-hal buruk kepada kita. Karenanya kita perlu mengubah perasaan buruk setiap kali kita merasakannya dengan cara memejamkan mata-bersukur-dan-tersenyum atau mendengarkan musik.
Hukum tarik menarik sangat terkait dengan proses penciptaan sesuatu. Ada tiga langkah sederhana untuk menciptakan sesuatu. Pertama adalah “meminta”, bisa bebentuk tulisan, doa atau visualisasi. Jika kita menginginkan mobil baru, pasanglah gambar mobil baru di tempat yang bisa kita liat setiap saat. Langkah kedua “percaya”, percayalah bahwa kita bisa memilikinya, tanpa keraguan sedikitpun. Ketika kita percaya alam (semesta) akan mencari cara untuk mewujudkan keinginan kita. Langkah ketiga adalah menerima, kita harus selaras dengan alam, merasa baik dan merasa pantas untuk menerima keinginan kita.
Berapa lama waktu dibutuhkan untuk proses penciptaan ini? Semesta tidak membutuhkan waktu untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Setiap penundaan yang kita alamai adalah karena kita menunda diri kita untuk menempatkan diri, untuk percaya dan merasa memiliki.
Charles Haneel mengatakan bahwa akal semesta adalah intelegensi (otak manusia) dan substansi. Subastansi adalah daya tarik yang menyatukan elektron-elektron melalui hukum tarik menarik sehingga membentuk atom. Atom membentuk molekul-molekul dan molekul membentuk objektif. Mekanika kuantum mengukuhkan bahwa pada esensinya semesta muncul dari pikiran dan semua materi di sekitar kita hanyalan pikiran yang mewujud.
Bagaimana pun, hukum ini terasa membingungkan, menyeramkan sekaligus mengagumkan. Membingungkan karena kita tidak tahu bagaimana alam bisa bekerja seperti itu. Tapi analoginya, kita tidak tahu bagaimana cara listrik bekerja tapi kita bisa memanfaatkan listrik untuk menerangi kita. Hukum ini menyeramkan karena begitu sering kita berpikiran negatif, merasa sedih, buruk, stress dan marah. Berita baiknya energi positif bernilai ribuan kali lipat dari energi negatif dan kita bisa merubah pikiran negatif setiap saat. Hukum ini juga mengagumkan karena kita lah yang menentukan hidup kita. We are the creator of our own universe. Buku ini mengajak kita untuk bersyukur, berbahagia dengan apa yang kita miliki dan berani bermimpi melalui pikiran yang akan mengabulkan mimpi itu menjadi kenyataan.
Disajikan dalam buku dan DVD, menurut saya The Secret sangat inspiratif dan sangat layak baca. Salute! Meski hanya 3% orang di dunia yang menjalankan resolusi tahun barunya, namun buku ini bisa menjadi teman beresolusi tahun baru 2008. Happy New Year 2008.
Tags: artikel, berita, Book review, Opini, review buku, Review film, Rhonda Byrne, Secret, The Secret

Januari 3, 2008 pada 9:00 pm
Amat sangat sependapat,
Mencerahkan dan bermanfaat,
Kebetulan bacanya menjelang tamat,
Banyak hal positif yg sebaiknya kita lakukan dan selalu kita ingat,
Selamat Tahun- baru 2008.
Januari 3, 2008 pada 10:01 pm
Saya pernah membaca namun tak sampai tamat, untuk pembelajaran dan penyemangat hidup..
selamat tahun baru ibu
Januari 6, 2008 pada 3:27 pm
nice article, man!
Januari 6, 2008 pada 3:29 pm
coba kirim ke koran/majalah
Januari 12, 2008 pada 4:39 pm
Li,
Review film Indo yang baru dong…gue kurang info nih…ntar kalo pulang aku beli DVD-nya di Mal Ambasador….hehe…
Met taon baru….
Dewi & Sophie (mini me!!)
Januari 12, 2008 pada 5:41 pm
Selamat ya bu, happy mommy dong sekarang? Mirip siapa si Sophie?
Aku belum sempet nonton film lagi wi, nulis di wordpress aja dah susah cari waktunya. Kalau balik Indo woro-woro ya?
Agustus 25, 2008 pada 2:29 pm
duh blom perna nonton the secret kmaren2 malah nonton the brave 1 ampe 4x hehehe asik denger narasinya JF soal eloise n skipperdeena.sori rada ndak konek ma topikna tp tambain dong review pelemna n musik skalian yah yah yah