Akhir-akhir ini saya mengalami betapa berartinya penggalan hadis “gunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu” atau pepatah yang sering didengungkan Andre Wongso “cintai yang kamu miliki, miliki yang kamu cintai”. Inti dua penggalan bijak ini menurut saya adalah seberapa besar kita bisa bersyukur atas apa yang kita miliki.
Ketika memotret sunset untuk pertama kalinya saya mulai sadar bahwa jangkauan horizon mata manusia begitu luar biasa. Baru-baru ini dalam tayangan Incredible Human Machine di National Geographic Channel, hanya alhamdulilah yang terucap berulang-ulang atas semua kehebatan tubuh kita termasuk disain dan sistem penglihatan kita. Dari pengalaman, hanya untuk memindahkan keindahan sunset melalui mata telanjang ke dalam selembar foto, dibutuhkan kamera bertele dengan kapasitas zoom yang besar.
Saya baru menyadari betapa luar biasanya memiliki penglihatan normal hingga ketika saya harus memakai kaca mata. Kontak lens pun ternyata tidak banyak membantu. Hingga sekarang saya tidak habis pikir dengan beberapa teman bermata normal yang ngotot berkaca mata hanya untuk terlihat cantik. Rasanya masih banyak cara lain untuk menjadi cantik.
Begitu pula dengan kulit. Saya tidak pernah menganggap istimewa kulit saya yang tidak pernah bermasalah hingga saya jerawatan karena alergi suplemen kesehatan tertentu. Dibutuhkan waktu, tenaga dan uang yang tidak sedikit hanya untuk mengembalikan kulit wajah ke kondisi semula. Butuh waktu karena untuk bertemu dokter yang mengatakan saya alergi saja, butuh waktu berjam-jam di ruang tunggu. Butuh tenaga karena untuk mencapai tempat dokter harus rela bermacet-macet dan menyisihkan kemauan untuk mengoleskan krim jerawat setiap saat. Uang untuk dokter kulit pun bisa berjuta-juta. Sedikit menyesal mengapa tidak mengambil kuliah kedokteran dan menjadi spesialis kulit dan kelamin? Sebagai informasi sekali praktek dari pukul 17.00-22.00, omset dokter kulit bisa mencapai Rp 25 juta per hari! (ayo-ayo sekolahin anak jadi dokter kulit, risiko kecil return besar).
Saya jadi kepikiran, rasanya prinsip artis-artis yang menjadikan tubuh mereka sebagai asset bisa kita tiru. Bukan karena setiap inci tubuh bisa menjadi komersil tapi lebih kepada kalau terjadi masalah, meskipun masalah kecil (jerawat, mata minus dan masalah kecil lain), ada harga yang tidak murah yang harus kita bayar.
Meski kedengarannya sangat klise, tapi dari jerawat saya jadi belajar untuk mensyukuri apa pun yang saya miliki.

Februari 24, 2008 pada 7:15 pm
ane jadi inget nasehat nabi, barang siapa bersyukur kepada manusia, maka ia telah bersyukur kepada Allah. Kalo diperkecil lagi, barangsiapa yang pandai mensyukuri sesuatu yang -dianggap- kecil, maka ia akan pandai mensyukuri yang lebih besar…
Salam kenal mpok…
Februari 24, 2008 pada 7:53 pm
Aduh andai ya aku punya uang banyak dah jadi dokter kulit dan kelamin he..he..he..
Februari 24, 2008 pada 9:24 pm
bener banget , siapa yang bersyukur rezkinya Insya Allah bertambah
mampir di tulisan ini mbak
makasih
http://realylife.wordpress.com/2008/02/21/ilmu-hati/
Februari 28, 2008 pada 12:18 am
Yep, ini yang sering lupa dilakuin..bersyukur tiap saat..thanks for the reminder.
Gimana, jerawatnya udah baikan?
Juli 25, 2008 pada 2:13 pm
aduh..aduh..jerawat…
saya hanya percaya sama adobe potosop saja buat hilangin jerawat, khe3
Juli 25, 2008 pada 9:54 pm
by photoshop we could not only erase our pimple but also vanish our existence, lol
Oktober 7, 2008 pada 3:46 pm
kalimat dalam kurung di paragraf kedua
Nopember 15, 2008 pada 12:11 pm
Bagaimana cara mengatasi jerawat alergi???