Arsip untuk 'Opini'Kategori

Kisruh DPT Pemilu 2009: Pemerintah lah yang paling bisa disalahkan!

April 17, 2009

Saya sampai kaget, melihat tayangan ulang semalam ketika Presiden SBY memberikan penjelasan posisi pemerintah dalam kasus kisruh DPT Pemilu. Intinya menurut Presiden, Pemerintah tidak bisa disalahkan sendirian, yang juga bersalah adalah KPU, Partai Politik dan Rakyat. Kalau pemerintah, KPU dan Partai Politik mereka bisa saja disalahkan tapi rakyat, yang benar saja Pak Presiden? Kami sudah membayar pajak, dan kami tidak berkeberatan ikut pemilu mengapa kami masih harus disalahkan?

Uang pajak kami dan utang pemerintah yang akan dibayar oleh anak cucu kami salah satunya digunakan untuk membayar gaji Pesiden, wakil rakyat, menteri-menteri (termasuk menteri dalam negeri),pegawai negeri, subsidi partai politik, pemilu dan membayar staff KPU yang tidak jelas kompetensinya. Mengapa kami juga diwajibkan untuk pro aktif mengecek DPT?

KPU jelas salah. Berasumsi bahwa data dari Depdagri valid tanpa ada usaha untuk cross check (cross check secara sampling pun ok kalau memang KPU isinya orang pemalas semua) merupakan indikasi tidak kompetennya KPU yang diseleksi dan dipilih oleh DPR (katanya dipilih secara independen dan demokratis). Partai Politik yang sibuk mencari dana kampanye hingga tidak sempat memberi atensi pada DPT juga salah namun pemerintah pun salah besar!

Saya menyayangkan komentar presiden yang tidak mau mengakui bahwa data kependudukan yang diserahkan oleh Kementrian Dalam Negeri memiliki kualitas yang sangat buruk. Adalah rahasia umum kalau seorang warga negara bisa memiliki berapa pun KTP yang diinginkan. Di Jakarta cukup membayar Rp250 rb untuk memiliki KTP tanpa syarat apa pun. Mengapa tidak mengakui bahwa manajemen data penduduk Indoensia sangat parah, tidak berubah sejak reformasi bahkan tidak berubah sejak merdeka? PR terbesar pemerintah adalah pendataan penduduk berbasis single identity system. Satu identitas untuk mengurus apa pun, satu identitas yang menjadi kode tiap warga negara untuk melakukan kewajiban dan menuntut haknya kepada negara.

Sistem single identity sudah lama menjadi wacana sejak reformasi. Namun setelah sepuluh tahun wacana tersebut tidak pernah beranjak dari sekedar wacana. Program single identity tentu bukan program yang mudah tapi jika negara-negara komunis sukses menyelesaikan pendataan penduduknya setelah merdeka dari Uni Soviet, tidak mustahil untuk Indonesia melakukan hal yang sama.

Tidak cuma masalah DPT yang akan selesai masalahnya jika single identity bisa terlaksana dengan benar. Bisnis pun akan sangat berterima kasih dengan adanya sistem pendataan penduduk yang jelas. Bank-bank akan lebih pede dalam memberikan kredit dengan data kependudukan yang kredibel. Penipuan-penipuan bermodal KTP rangkap, paspor rangkap meskipun tidak hilang seluruhnya setidaknya dapat diminimalisir. Pemerintah akan lebih mudah meningkatkan pendapatan melalui pajak dengan menambah setoran dari kenaikan jumlah wajib pajak yang teridentifikasi dengan benar, bukan dengan menaikkan NJOP secara serampangan! Program-program subsidi, BLT, dan program untuk masyarakat miskin tidak lagi akan salah sasaran.

So Mister Presiden, despite of the good way you criticized the political elites, KPU and people of Indonesia, this time your speech was not good, even lousy.

GOLPUT vs ANTI PKS

April 11, 2009

Tahun 1999 adalah pemilu saya yang pertama sekaligus pemilu mutli partai pertama Indonesia setelah tiga dekade berada dalam kekuasaan Orba. Masa-masa tersebut adalah masa euforia di mana setiap orang bisa mendirikan partai apa pun. Waktu itu saya memilih PAN, sesuai janji saya dalam hati ketika berpanas-panas mendukung Amine Rais di depan gedung rektorat UGM di tahun 1998. Hasil pemilu, meski masuk electoral threshold, perolehan suara PAN tidak seperti yang diharapkan. Saya menyayangkan begitu banyak kesempatan yang dilewatkan dan tidak digunakan oleh PAN dan Amin Rais ketika memimpin Poros Tengah. Setelah itu, anggota legislatif dari PAN juga tidak berbeda dengan partai yang lain. GIGO, Garbage IN Garbage Out. Terima suap ayo, jalan-jalan ke luar negeri pakai uang negara ayo, selingkuh ayo, dan mendukung banyak undang-undang yang tidak produktif.

Saya kecewa berat. Mungkin seharusnya saya tidak memupuk harapan yang terlalu tinggi dengan partai yang identik dengan Amin Rais ini. Setelah itu saya ngga peduli lagi dengan Pemilu. Pemilu buat saya priviledge untuk berlibur. Saya tidak keberatan untuk tidak masuk dalam daftar pemilih tetap meskipun saya punya 2 KTP sah dan masih berlaku. Kalau saya mau saya bisa terdaftar di dua tempat, tapi saya pikir, that’s it. Dengan tidak memilih paling tidak saya tidak berkontribusi menyumbang suara untuk memilih koruptor, tidak berkontribusi untuk memilih anggota legislatif yang kalau tidur dalam rapat pleno jauh lebih membantu daripada kalau ngga tidur.

Ketika PKS memenangkan pemilihan daerah Jakarta, saya jadi tersadar. I called it as a wake up call. Saya tidak ingin PKS menang meskipun partai ini mengusung ideologi agama yang juga saya anut. Sejujurnya saya tidak pernah membaca langsung dokumen platform PKS. Tapi dari perilaku dan kecenderungan di DPR, saya secara pribadi sangat khawatir bahwa jika PKS memang, kemungkinan merubah ideologi negara dari Pancasila menjadi negara Islam sangat terbuka lebar. Meskipun elit PKS berjanji tidak akan merubah Pancasila, kalau sudah menang dan berniat merubah apa daya pihak yang kalah? (baca Gus Mus dalam Pilkada Jakarta: Konflik Ideologi dan Dilema Pemilih)

Jika Indonesia berubah menjadi negara Islam, hak-hak orang non-Islam tentu tetap akan terjamin (dengan pembatasan tertentu pastinya) namun hak-hak orang Islam yang berbeda pendapat belum tentu terjamin. Mungkin darah Ulil Absara akan dihalalkan, who knows? Dan bisa dipastikan Undang-undang Anti Pornografi akan diberlakukan secara luas di seluruh Indonesia (Silahkan klik di sini untuk detil UU Anti Pronografi), meskipun pada kenyataannya bukan cuma PKS yang mendukung UU Anti Pornografi, Golkar dan beberapa partai lain pun mendukung UU Anti Pornografi ini. Setahu saya hanya PDIP dan PDS yang menolak dengan tegas UU Anti Pornografi (kalau bukan Bu Mega Capres-nya mungkin saya akan mempertimbangkan untuk memilih PDIP). UU Anti Pornografi sangat merugikan perempuan dilihat dari sudut pandang mana pun.

Yang selalu saya khawatirkan ketika suatu golongan tertentu bercita-cita memiliki negara dengan ideologi Islam adalah kemungkinan cara berpikir sempit yang dimiliki anggota-anggotanya. Apa sih definisi negara Islam? Sejarah mencatat ketika suatu negara memproklamirkan negaranya menjadi negara Islam maka kebijakan pertama yang dilakukan adalah merumahkan perempuan dan memaksa memakai cadar (baca: membendakan perempuan). Secara otomatis seluruh mahasiswi tidak boleh melanjutkan kuliah karena tidak ditemani oleh muhrim. Semua karyawati tidak bisa bekerja karena tidak ditemani oleh muhrim. Inilah yang dilakukan Taliban di Afganistan.

Mengapa kebijakan ini yang pertama kali ditempuh? Karena ini lah kebijakan paling mudah yang dilakukan untuk menggemborkan pada seluruh dunia bahwa mereka berideologi Islam. Daripada susah-susah bekerja keras mendefinisikan dan menerapkan ekonomi Islam di tengah-tengah hegemoni ekonomi kapitalis lebih baik merumahkan perempuan. Ini malah menciptakan lowongan kerja baru, pulisi (bukan polisi, kalau polisi mengejar kriminal) syariah.

Mungkin kekhawatiran saya berlebihan, tapi ini bukan tanpa alasan. Orang menilai karena persepsi dan persepsi inilah yang saya dapat dari PKS. Saya berjanji tidak akan golput lagi, karena saya tidak ingin PKS menang.

**

Draft UU Anti Pornografi saya lampirkan kemudian

A REASON TO SUPPORT ABORTION

Maret 15, 2009

The uncovered medical clinics performing illicit abortions by the police made me think a lot. Couple years ago I received forwarded email that showed many awful aborted fetus’ pictures. The pictures made me sick. Did these should be-mothers have a heart? It was unimaginable way to die. My second impression was how brave these should-be mothers were. While the doctor stabbing the fetus inside the uterus, these females faced death risk too. Why females (single or married) have to risk their life to do abortion?

The most reason of a patient to do abortion will probably be the incapability to provide the future baby a good and healthy life economically and psychologically. If it is the reason, why not legalized the abortion not only for the sake of the baby but also for the sake of the should be-mother and the community? Baca entri selengkapnya »

TRY OUT: THE ENTRY TEST TO THE HEAVEN (MOSLEM VERSION)

Oktober 23, 2008

Before you take the test, read the article related here

The test was set for rapid answer and closed book test. Don’t think hard just answer them easily.

Number 1-3 are related questions.

1.How many times should you take obligatory prayers a day?

2.Why you need to take that many (your answer for question 1)?

3.How many times the obligatory prayers according to the Qur’an?

4.What do you know about Qur’an?

5.Who was the prophet that lived in the same age with Prophet Abraham (read: Nabi Ibrahim)? Baca entri selengkapnya »

Malaysia-Indonesia Quarrel Turns to Music

September 10, 2008

Last Friday The Jakarta Post’s headline stunned me. I even read the article twice and took the newspaper (my office newspaper) home to share with others. What an unbelievable story, Malaysian music industry wants Indonesian songs restricted. Actually, I heard the rumor like a year ago, when blog community heated by Indonesian referee’s tragedy in Kuala Lumpur. But, I never imagine that this song-restricted gossip will officially be headline news in our national newspaper.

Let me quote the article here, “The association of Malaysian music industry employees, Karyawan, has demanded the local authority limit the number of Indonesian songs on radio broadcasts. The association planned to propose to the Malaysian Minister of Energy, Water and Communications Minister, Shaziman Abu Mansor, a broadcasting ratio of 90 percent Malaysian songs and 10 percent Indonesian.” Baca entri selengkapnya »

INDEPENDENCE DAY CEREMONY

Agustus 16, 2008

My answer for a question what your plan for this long weekend was always returned in mocking sense, “Oh please, flag independence ceremony?”

Instead of supporting the pity comment with grumbling and mumbling, this year I see the flag ceremony obligation as a privilege. When could we sing our anthem before our flying flag? While we don’t achieve many awards that required our anthem sung abroad, August 17 is the moment. Baca entri selengkapnya »

INDONESIA RAYA

Agustus 16, 2008

Recite and sing our anthem once a year folks, otherwise Malaysia may claim the anthem belong to them too, lol.

INDONESIA RAYA

Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
Di sana lah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya
untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

TVRI KAMPRET

Agustus 16, 2008

I was filled with joy watched Maria Kristin Yulianti’s amazing performance for bronze medal single woman badminton Olympic when suddenly TVRI, the only official Olympic broadcast TV changed the show with first lady’s awarding ceremony for teachers in LIVE! Gosh, do they have priority at all?

We were not waiting for Michael Phelp get the seventh gold medal, we were waiting our badminton heroes and heroin fighting to make bloody-fighting Indonesian flag fly in prestigious Olympic games. Despite the mission of state-owned channel as government communication media, TVRI should have priority. I believed the first lady would not mind to broadcast her formal ceremony replayed. Baca entri selengkapnya »

Love and Egalitarianism

Juli 25, 2008

Last week, I got flowers from someone that I had never expected to. Twice! Despite I never fond of flowers, this romantic-should-be-flower became kind of joke among my Kos friends. There were very long long out load laughing. Again, twice! This flowers sender was no other than used-to-be our landlord driver. He was such a careless driver that my landlord fired him after one-month work like two years ago. Our landlord called him a careless, crude, unbelievable driver he ever had in his life.

My Kos friends comments were exactly like my questions, why me, why now, after years? Apparently, he was our neighbor that we never realized and he was the one who teased me impolitely almost every night lately across our boarding house. One of the girls said, he chose me simply because my life style and my gesture seem very modest and reachable for him. Oh geez.

It seems the chit chatting shifted to the class of economy. We don’t need the Hindu caste system to feel, to see the caste created smoothly by the capitalism. The question is what’s wrong if he is a driver and a careless-uneducated-lack of wealth buddy? The girls accused me for not being egalitarian for turning down the dating offer. Baca entri selengkapnya »

SEMOGA PANJANG UMUR DAN MENJADI ANAK SOLEH

Juli 20, 2008

Seminggu yang lalu saya mengucapkan sms ucapan selamat ulang tahun kepada seorang teman. “Selamat ultah ya, semoga dengan bertambahnya umur, kualitas hidup jadi lebih baik”. Lewat messenger, sms saya berbalas, “ucapan selamatmu berbeda dengan yang lain”.

Hari berikutnya saya menerima sms kabar bahwa istri seorang teman di luar kota baru saja melahirkan anak pertama dan mengharap doa saya semoga anaknya menjadi anak yang soleh. Saya membalas smsnya dengan ucapan, “semoga kamu dan istri menjadi orang tua yang solehah”. Dia membalas, “kok malah aku yang kamu doain?”

Begitu seringnya kita mengucapkan selamat, sampai rasanya kita tidak benar-benar mendoakan dan tidak berpikir lagi apa yang kita ketik dalam ucapan-ucapan selamat kita. Baca entri selengkapnya »